Pembunuh itu Bernama Plastik Hitam!

Kantong plastik hitam bukanlah barang yang asing lagi. Kita sering menggunakannya sebagai wadah dalam keperluan sehari-hari, salah satunya sebagai wadah makanan. Namun tahukah kita bahwa kantong plastik hitam itu hasil daur ulang dari berbagai macam jenis sampah? Amankah dipakai untuk wadah makanan?

 Ciri yang melekat pada kantong plastik hitam adalah mudah robek, berbau tak sedap, dan bila diterawang akan terlihat warna yang tidak merata. Dari indikasi tersebut, sebenarnya sudah dapat diterka dari bahan apa kantong plastik diproduksi.

Sejak lama, pemakaian kantong plastik hitam menjadi fenomena. Penikmat jajanan siap saji seperti gorengan maupun makanan lainnya, kebanyakan menggunakan kantong plastik hitam sebagai wadah. Mayoritas penjual makanan lainnya juga menyediakan ribuan kantong plastik hitam sebagai wadah setelah melakukan jual beli.

Malu jadi alasan

Diakui Fatimah Fajar, salah seorang penggila jajanan gorengan, salah satu alasan penggunaan plastik hitam adalah karena rasa malu, tidak ingin orang lain tahu apa isi kantong yang kita bawa. Meski terkadang, itulah jenis kantong plastik satu-satunya yang disediakan penjual.

‘’Saya suka beli jajanan gorengan yang kantong plastiknya terkadang berwarna hitam, bening atau transparan, bahkan warna lainnya. Namun yang lebih suka sich yang hitam,’’ ungkap Mahasiswa Bahasa Inggris’09 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini, Minggu (05/06)lalu.

Kantong plastik hitam, disebut Fajar, memang mengandung banyak bahaya. Baik dari segi kesehatan maupun dari segi lingkungan. Namun sulit menghindari makanan siap saji yang biasa dikemas di dalamnya.

‘’Saya sudah tahu, tapi tidak bisa jika tidak membeli gorengan. Mungkin dengan menggunakan lapisan daun pisang atau bawa piring dari rumah bisa meminimalisir. Tapi sangat merepotkan,’’ sebutnya sembari tersenyum.

Menanggapi hal itu, salah seorang penjual gorengan di sepanjang Jalan Bina Krida mengaku tidak menggunakan kantong plastik hitam lagi sejak melihat pemberitaan di televisi mengenai bahaya dari kandungan plastik hitam, apalagi baunya sangat tajam.

‘’Kita sudah lama menggunakan kantok plastik bening atau transparan, tidak menggunakan plastik hitam lagi semenjak ada pemberitaan di televisi,’’ ungkapnya kepada Tekad, Jumat (03/06) lalu sembari membungkusi pesanan dagangannya.

Riwayat yang ‘menjijikkan’

Sebenarnya, tidak hanya kantong plastik hitam, kantong plastik berwarna lain pun berefek sama dengan kantong plastik ini. Baik itu berwarna biru muda, merah, atau pink sekalipun. Sebab, kantong plastik berwarna, terutama hitam memiliki riwayat produksi yang sangat ‘menjijikkan’. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dalam hal ini, mengaku melakukan pengawasan terhadap kemasan makanan dan menunjukkan bahwa plastik mengandung bahan Pepisi/Polivinil Klorida (PVC) dan Monomer Vinil Klorida (VCM) yang terbuat dari penstabil. Juga pencegah kerusakan, seperti; senyawa timbal (Pb), kadmium (Cd), dan timah putih (Sn). Tidak hanya itu, untuk kelenturan dan kefleksibelan plastik, ditambahkan senyawa ester flalat dan ester adipat.

Padahal, VCM dapat mengakibatkan kanker hati, senyawa Pb dapat meracuni ginjal dan saraf, senyawa Cd dapat meracuni ginjal dan mengakibatkan kanker paru, sementara senyawa ester dapat mengganggu sistem endokrin. Terhadap lingkungan, sampah plastik sangat lama untuk diuraikan sehingga menyebabkan penumpukan sampah.

Dra Sri Martini Apt MSi, Kepala Bidang Pengujian Teranoko BPOM Riau menjelaskan, berbagai kandungan berbahaya dari kantong plastik tadi akan aktif melepaskan zat-zat berbahayanya ketika dalam kondisi panas, berminyak, dan terkena alkohol. ‘’Tidak hanya kantong plastik hitam, kantong plastik berwarna lainnya pun demikian,’’ jelasnya pada Tekad, Selasa (31/05) lalu.

Belum lagi mengingat cara pembuatan atau daur ulang sampah bahan dasarnya yang tidak bersih. Mulai dari sampah yang dipungut pemulung, pengolahan sampah yang tidak steril dengan mencampur-adukkan berbagai bahan baku seperti; bekas bungkus pestisida, bekas kotoran manusia dan hewan, sampah rumah tangga, limbah rumah sakit, dan lain sebagainya tanpa ada pencucian. Hingga akhirnya diolah menjadi kantong plastik.

‘’Sebetulnya tidak dibenarkan meletakkan makanan di wadah itu, BPOM sendiri mengawasi makanan yang sudah dalam kemasan, bukan makanan yang di luar kemasan seperti pake kantong plastik gini. Untuk menindaklanjuti produksi kantong plastik, sebenarnya yang berwenang adalah bidang perindustrian,’’ ungkap Sri Martini lagi.

Selanjutnya, Sri menjelaskan, kantong plastik hitam boleh saja dipakai untuk wadah makanan jika terlebih dahulu dilapisi dengan pembungkus atau plastik lain yang bening. Kantong plastik hitam juga aman jika dipakai membungkus dan mengemas bahan makanan seperti padi, pisang, salak, singkong, dan lainnya yang sifatnya tidak terkena langsung dengan plastik.

‘’Kantong plastik hitam jangan untuk makanan langsung, untuk lainnya  boleh. Pokoknya hindari sajalah. Itu semua perilaku yang tidak sehat.  Yang baik itu kantong plastik bening atau transparan,’’ tambahnya.

 Peringatan kepada publik

Sri Martini mengatakan, BPOM selalu menghimbau masyarakat dengan penyebaran informasi ke kabupaten yang ada di Provinsi Riau. Termasuk juga informasi ke dinas kesehatan tentang keamanan dan pemilihan makanan dan obat yang baik dikonsumsi yang dilanjutkan melalui penyuluhan massal di RRI atau TVRI.

Menindaklanjuti hasil pengawasan terhadap kantong plastik, BPOM RI mengeluarkan Surat Peringatan Publik/Public Warning tentang Kantong Plastik ‘Kresek’ Nomor KH.00.02.1.55.2890. Diantaranya menegaskan bahwa proses daur ulang kantong plastik memiliki riwayat tidak steril dan ditambahkan berbagai bahan kimia.

‘’Tetapi banyak yang masih menggunakan pepatah awam; ‘ah, saya dari dulu pake ini juga ga’ mati-mati’ atau ‘kakek nenek saya juga dari dulu pake ini juga ga’ mati-mati.’ Akan tetapi, kondisi badan setiap orang pasti berbeda, jika sikap dan pola hidup sehat tidak dipraktekkan dampaknya adalah jangka panjang, tidak langsung terasa dalam waktu dekat,’’ ungkap Sri.

Fajar berharap, pemerintah bisa mensosialisasikan lagi masalah ini karena belum semua orang paham akan bahaya plastik hitam, khusunya masyarakat awam. ‘’Seharusnya pemerintah menggalakan menggunakan kertas yang ramah lingkungan, biar minyak makanan siap sajinya meresap ke kertas. Namun ada dampaknya juga, karena menggunakan kertas berarti membutuhkan pohon. Tapi bisa diminimalisir dengan penggunaan  plastik berwarna bening lalu melapisinya dengan daun pisang,’’ lanjutnya.***

Aristra/Mentari

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: