Beasiswa di UR Tuai Kritik

Banyaknya beasiswa yang tersedia tak lantas membuat banyak mahasiswa yang mengetahui informasi tentang bantuan dana pendidikan tersebut. Tentunya hal ini menjadi sebuah keprihatinan. Di saat seorang mahasiswa menikmati uang yang ia peroleh dari dana beasiswa, masih ada mahasiswa yang belum mendapatkannya, bahkan tidak mengetahui adanya beasiswa tersebut. Padahal ia termasuk dalam kategori persyaratan.

TEKAD-Banyak kendala yang bisa melatar belakangi masalah diatas.  Salah satunya tak terlepas karena minimnya informasi yang diberikan. Penyampaian informasi beasiswa di Universitas Riau (UR) bahkan terkadang mengalami keterlambatan sehingga menyulitkan mahasiswa yang ingin mengurus   persyaratannya.
Seperti yang diungkapkan oleh Dwi Rahajeng. ‘’Terkadang informasi tentang beasiswa itu sendiri lambat sampai ke mahasiswa. Seharusnya infonya sudah ada satu minggu lalu, baru sampai ke mahasiswa minggu ini, sehingga untuk melengkapi persyaratan beasiswa tersebut mepet waktu dan tidak tidak terkejarkan lagi sampai batas waktu pengumpulannya,’’ ungkapnya, Senin (10/10) lalu.
Tak hanya itu, sulitnya persyaratan juga menjadi kendala. Dituturkan Datik Lestari, salah seorang mahasiswi Faperta yang beberapakali mencoba beasiswa PPA dan BBM. Datik mengaku hanya mengetahui beasiswa PPA dan BBM, dan menurutnya, untuk mengurusi dua beasiswa umum ini saja sangat sulit. ‘’Hingga saat ini saya hanya mengetahui beasiswa PPA dan BBM. Saya berasal dari daerah Kabupaten Kuansing yang jauh dari Pekanbaru, sehingga butuh waktu yang cukup lama untuk mengurus surat-surat yang diperlukan. Harus bolak-balik hanya untuk melengkapi semua syarat-syarat,’’ keluhnya Sabtu (01/10) lalu.

Monopoli informasi
Monopoli informasi pun kerap terjadi di kalangan mahasiswa. Informasi beasiswa yang biasa ditempel di majalah dinding (mading) menjadi sasaran empuk bagi sebagian mahasiswa untuk menanggalkan. Alhasil, informasi yang seharusnya menjadi milik bersama kini hanya menjadi santapan pribadi.
Hal ini pulalah yang disayangkan oleh beberapa mahasiswa. Abdul Latief, misalnya. Ia sangat menyayangkan mahasiswa yang mengetahui sebuah informasi beasiswa namun tidak menginformasikannya kepada masiswa yang lain. ‘’Banyak yang memonopoli informasi tentang keberadaan beasiswa, info hanya di simpan untuk dirinya sendiri atau dia dan teman-temannya. Harusnya semua mahasiswa mendapat kesempatan sama,’’ kata Latief, Senin (03/10) lalu.
Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) ‘09 ini pun menyayangkan, pengumuman hanya berada di beberapa tempat, sehingga menyulitkan mahasiswa untuk mengetahuinya. ‘’Selama ini saya perhatikan untuk info beasiswa itu sendiri baik itu pamflet, selebaran, dan sejenisnya hanya berada di tempat tertentu saja. Seperti di jurusan dan di kemahasiswaan fakultas,’’ tukasnya.
Ke depannya, informasi pengumuman beasiswa seharusnya lebih ditingkatkan dan tidak terbatas pada tempat-tempat tertentu. ‘’Saya harapkan ke depannya info beasiswa ini tidak hanya di tempat-tempat tertentu dan tidak terbatas pada ruangan tertentu. Kebanyakan mahasiswa kan jarang ke prodi ataupun ke kemahasiswaan kalau tidak ada urusan,’’ harap Mayor Komandan Komahi ini.
Menanggapi hal tersebut, Dr Rahmat MT, Pembatu Rektor III (PR III) menyatakan bahwa pihaknya langsung menyerahkan informasi beasiswa tersebut ke masing-masing fakultas. ‘’Semua informasi tentang beasiswa yang masuk ke universitas, langsung kami serahkan lagi ke masing-masing fakultas, tidak pernah kami tahan-tahan di sini. Mengenai tidak tahunya mahasiswa tentang informasi beasiswa tersebut, mungkin mahasiswanya saja yang kurang tanggap dan kurang aktif dalam mencari informasi,’’ ujarnya Sabtu (1/10) lalu.
Tegas Rahmat lagi, banyak beasiswa yang memang tidak pakai sosialisasi, tanpa brosur resmi seperti beasiswa dari pihak instansi atau perusahaan. ‘’Karena sudah ada di prodi-prodi fakultas. Gak ada alasan gak tahu, apalagi untuk PPA dan BBM. Pertama masuk, saya pidato tentang PPA/BBM. Sudah saya sampaikan, bagi mahasiswa yang kurang mampu, silahkan lapor ke PD III atau PR III,’’ tegasnya.
Rahmat selalu berprinsip agar mahasiswa tidak pernah berhenti dalam pendidikan, jika alasannya adalah keuangan. ‘’Saya pikir seperti itu dan yang salah bukan sosialisasi. Bidikmisi saja yang melamar 3000-an yang diambil cuma 1000-an orang. Itu untuk mahasiswa baru. Jika kurang sosialisasi, tidak mungkin pelamar sebanyak itu, ’’ungkapnya.

Universitas dituntut lebih selektif
Saat disinggung mengenai mahasiswa yang bisa mendapatkan dua beasiswa sekaligus, Rahmat menyatakan bahwa hal tersebut tidak dibenarkan karena masing-masing mahasiswa hanya diperbolehkan untuk mengurus satu jenis beasiswa saja.
‘’Jika ada mahasiswa yang sudah dapat dan mencoba beasiswa yang lain, itu sangat gampang diakses karena kita punya database mahasiswa, jadi tinggal di-black list saja, Tapi kalau masih lolos, itu mungkin di luar kendali kita. Kalau ada yang tahu, lapor saja ke sini, biar kita proses,’’ katanya saat ditemui di ruangannya.
Rahmat pun tidak membenarkan mahasiswa yang notabenenya mampu, namun mengurus beasiswa yang diperuntukkan bagi  mahasiswa kurang mampu. Rahmat menyatakan mahasiswa seperti itu sama saja dengan tidak bermoral. ‘’Mentalnya itu yang perlu dikasihani. Jika memang saya tahu nama mahasiswa yang dapat beasiswa tidak sesuai, akan saya proses hari ini juga, saya akan hapus namanya dari daftar penerima,’’ tukasnya.
Petrus, salah satu mahasiswa FMIPA UR, mengaku selalu antusias dalam mencoba beasiswa. Namun kebanyakan berujung kecewa. ‘’Kenapa orang yang kurang mampu tidak dapat. Sementara orang yang kita anggap mampu lewat penilaian kendaraan pribadinya pakaian mewah yang dikenakannya, justru dapat beasiswa itu. Ini tanda tanya besar,’’ tukasnya.
Petrus berharap, birokrasi fakultas dan universitas dapat lebih selektif, khususnya dalam memfilter data-data mahasiswa, ‘’Supaya beasiswa itu menjadi ajang bergengsi dan mahasiswa lebih terpacu dalam berprestasi. Contohnya PPA. Jika penyaringannya benar-benar, seperti memberikan beberapa test dahulu, pasti terkesan lebih bergengsi. Paradigma mahasiswa pun berubah dan dapat memacu untuk mendapatkan beasiswa itu lewat persaingan positif yang diprogramkan,’’ harap Petrus mengakhiri.***

(Indah & Dini/ Tekad)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: