Ilmu Komunikasi Jadi Fakultas

‘’Selambat-lambatnya tahun 2017 Fakultas Ilmu Komunikasi sudah selesai dan siap untuk digunakan. Namun, jika progress berjalan cepat seperti halnya Prodi Ilmu Komunikasi menjadi Jurusan, maka tahun 2014 target Ikom menjadi fakultas akan terwujud…’’

TEKAD-Perkembangan sebuah ilmu pengetahuan seiring dengan kebutuhan manusia akan ilmu tersebut. Seperti halnya ilmu komunikasi.  Salah satu ilmu sosial ini beberapa tahun terakhir mendapatkan perhatian yang cukup besar oleh masyarakat. Melihat fakta tersebut, Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas (Ikom) Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau (FISIP UR) mulai mengupgrade  statusnya menjadi fakultas.
Seperti yang dikatakan Ir Rusmadi Awza SSos MSi Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, melihat perkembangan Ilmu Komunikasi pada saat ini, merupakan hal yang wajar bila jurusan Ikom FISIP UR menjadi fakultas.
‘’Apabila komunikasi menjadi fakultas, kita akan lebih bisa mengembangkan diri dan mahasiswa lebih leluasa untuk berkreatifitas,’’ jelas Rusmadi kepada Tekad, Rabu (16/11) lalu.
Untuk memperlancar segala urusan, Ikom telah menyiapkan tim Adhoc. Tim Adhoc merupakan tim yang akan menyiapkan syarat-syarat dan segala keperluan jurusan Ikom untuk menjadi fakultas. Tim yang diketuai oleh Belli Nasution SIp MA tersebut sudah mulai bekerja dan berusaha mempersiapkan segalanya. ‘’Semakin cepat semakin bagus komunikasi menjadi fakultas,’’ kata Rusmadi semangat.
Step by step
Selaku ketua Adhoc, Belli menjelaskan, dalam melakukan perubahan tersebut dia dan keenambelas rekanya harus melewati tahap-tahap yang telah ditentukan. Tahapan tersebut yakni, memenuhi syarat utama yang harus disetujui oleh fakultas yang kemudian dibawa ke rapat senat fakultas.
Setelah tingkat fakultas selesai, selanjutnya akan diadakan rapat senat tingkat universitas. Apabila disetujui, dokumen akan dikirim ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti).
Tak sampai di situ, Dikti juga akan meminta pertimbangan Badan Administrasi Proyek Negara (BAPN). Hal tersebut disebabkan adanya fakultas baru secara otomatis akan membawa konsekuensi jabatan-jabatan baru yang akan dibebankan kepada negara, seperti Dekan fakultas, Pembantu Dekan (PD) I, II, dan III, dan staf-staf lainnya. Selanjutnya, tim akan mempersiapkan syarat-syarat yang diminta oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas).
Mengenai persyaratan, berbagai syarat mulai dipersiapkan oleh tim Adhoc. ‘’Sejauh ini persiapan tim sudah menyusun proposal pengajuan yang nantinya akan diajukan ke rapat senat universitas. Proposal tersebut berisi data-data mengenai studi kelayakan sampai dengan bagaimana fakultas akan dikelola nantinya,” terang Belli kepada Tekad, Selasa (13/12) lalu.
Persiapan selanjutnya yakni Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya tenaga pengajar. Kata Belli, minimal sebuah fakultas mempunyai beberapa kriteria dosen pengajar seperti S2 dan S3. Untuk itu, tim Adhoc akan mencari tahu aturan minimal jumlah tenaga pengajar. Saat ini Ikom telah mempunyai dosen tetap sebanyak 13 orang.
Begitu juga dengan fasilitas dan infrastruktur, berupa gedung kuliah, gedung dekanat, dan laboratorium serta lokasi berdirinya fakultas. Untuk lokasi, tim Adhoc beserta pimpinan universitas dan Kemendiknas akan mendiskusikan hal tersebut. Hal tersebut terkait karena wilayah kampus tidak hanya digunakan untuk membangun gedung, namun juga harus memperhatikan keseimbangan alam.
Mengenai anggaran dana gedung perkuliahan dan gedung dekanat, untuk sementara tim Adhoc memperkirakan dana yang akan dikeluarkan sekitar Rp15,5 miliar. ‘’Target yang perlu dikejar adalah membuat rencana bangunan dan anggaran yang akan dikomunikasikan dengan pihak fakultas dan universitas,’’ kata Belli.

Peluang lebih besar
Peluang besar Ikom dalam mengembangkan diri tak hanya pada pengembangan sumber daya dosen, namun juga mahasiswanya. Mahasiswa akan lebih terpacu karena kebijakan dan keputusan berada di tangan fakultas. Selain itu, mahasiswa akan mempunyai peluang besar untuk melakukan berbagai kegiatan karena sudah mempunyai fakultas sendiri dan fasilitas sendiri.
Belli menjelaskan, keinginan Ikom menjadi fakultas bukan karena tidak serasi dengan FISIP. Namun, keinginan tersebut bertujuan memberikan peluang kepada masyarakat untuk lebih banyak diterima di program studi yang ada dalam domain komunikasi.
‘’Jika masih jurusan, paling banyak komunikasi setiap tahun hanya menampung 90 mahasiswa reguler dan 90 mahasiswa nonreguler. Jadi total hanya sekitar 180-an mahasiswa per tahun,’’ jelas Belli.
Mengenai minat masyarakat, Belli menjelaskan, masyarakat memiliki minat yang sangat besar terhadap komunikasi. Setiap tahun kurang lebih 3000 orang yang ingin bergabung. Jika Ikom telah menjadi fakultas, komunikasi bisa menerima sekitar 800 orang setiap tahunnya.
‘’Komunikasi memberikan peluang yang lebih besar kepada masyarakat untuk bisa kuliah di jurusan Komunikasi. Satu-satunya jalan, komunikasi harus menjadi fakultas. Walaupun perguruan tinggi di Riau lainnya ada jurusan Ilmu Komunikasi, namun seharusnya perguruan tinggi negeri seperti UR bisa memberikan porsi yang lebih untuk masyarakat,” katanya.
Belli juga menjelaskan, berdasarkan evaluasi yang dibuat untuk akreditasi tahun 2009 lalu, tim menargetkan selambat-lambatnya tahun 2017 Fakultas Ilmu Komunikasi sudah selesai dan siap untuk digunakan. Namun, jika progress berjalan dengan cepat seperti halnya prodi Ilmu Komunikasi menjadi jurusan, ditargetkan tahun 2014 target Ikom menjadi fakultas akan terwujud.
“Saya berharap nantinya fakultas komunikasi bisa menjadi fakultas yang berperan penting di Sumatera dan di Riau khususnya. Kalau jadi terwujud nanti, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) UR akan menjadi fakultas  pertama di Sumatera untuk universitas negeri,”  harap Belli.
Di temui di tempat berbeda, pengharapan yang sama juga sampaikan oleh Suyanto SSos MSc Ketua Laboratorium Ikom. Dia berharap setelah jurusan Ikom menjadi fakultas, nantinya Fikom UR dapat berkembang lebih jauh dan lebih otonom dalam mengelola gedung serta proses belajar yang lebih spesifik.
‘’Jika telah menjadi fakultas, bidang konsentrasi ilmu komunikasi akan menjadi lebih luas. Saat ini komunikasi memiliki tiga konsentrasi, nantinya kita akan kembangkan menjadi lima, sehingga komunikasi akan jauh lebih berkembang. Mahasiswa juga akan lebih fokus dan maksimal terhadap bidang konsentrasi mereka masing-masing,’’ kata Suyanto kepada Tekad, Senin (12/12) lalu.
Kabar Ikom yang hendak menjadi fakultas pun disambut gembira oleh mahasiswa Ikom. Aditya Tri Mahfudi, misalnya. Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) ini berharap, jika Ikom menjadi fakultas, kelak Ikom dapat meningkatkan struktur dan infrastrukturnya.
‘’Jika komunikasi menjadi fakultas, diharapkan komunikasi mempunyai fasilitas yang lengkap, khususnya laboratorium. Karena laboratorium merupakan fasilitas yang wajib untuk jurusan Ilmu Komunikasi sebagai tempat praktik,” harap mahasiswa Ikom ’09 ini.

Fakultas menanggapi
FISIP telah memberikan lampu hijau kepada Ikom untuk mengembangkan diri menjadi fakultas. Namun, Drs H Ali Yusri Ms Dekan FISIP menyampaikan, kabar Ikom menjadi fakultas tidak perlu terlalu di besar-besarkan. Ia berpesan, untuk menjadi fakultas, jurusan Ilmu Komunikasi harus melalui tahapan-tahapan.
‘’Tahapan yang dimaksud adalah komunikasi harus melakukan penataan program studi, penataan jurusan, penataan kompetensi, dan penataan sumber daya manusia. Selain itu, komunikasi juga harus memperhatikan fasilitas di jurusan dan menyekolahkan kembali para dosen agar kualitas dosen lebih baik,’’ kata Ali kepada Tekad, Selasa (03/01) lalu.*** (Latifa & Novel/Tekad)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: