Kala Etika Memudar

TEKAD-Siang itu, matahari bersinar tajam. Beberapa mahasiswa di areal hijau kampus kecintaan tengah asik dengan aksesan internet gratis. Mereka menyebut tempat khusus yang disediakan untuk free WiFi itu dengan selter atau hotspot. Pepohonan rindang di sekitar meja meja hotspot bak dinding transparan yang menghalangi sengatan tajam matahari, menambah kenyamanan mahasiswa.

Namun kenyamanan ternyata dapat melenakan. Salah satu mahasiswa sempat terlelap pulas di bangku selter dengan posisi badan miring ke kanan membelakangi meja selter. Kepalanya berbantalkan tangan kanan dan jaket, kaki terlipat segitiga siku. Bukan saja lupa akan beretika atau tidaknya  perilakunya, akan siapa dirinya mungkin mahasiswa ini lupa.
Pada areal kampus lain, dua orang mahasiswa, dengan atribut mahasiswa selayaknya yakni; kemeja, sepatu, dan tas ransel tampak duduk santai di pagar parkir. Kata pagar secara harfiah tentu adalah pembatas atau tanda batas suatu tempat dengan tempat lainnya. Tidakkah suatu pertanyaan jika kaum akademis seperti mahasiswa menyalahgunakan fungsi fasilitas umum?
Layakkah hal itu dilakukan oleh mereka? Mereka yang disebut berpendidikan, yang semestinya menjadi teladan dalam berperilaku sopan. Jika sesosok muda ini adalah pribadi yang dianggap dapat dicontoh oleh masyarakat banyak, artinya tindakan tidak beretika mereka akan menjadi contoh yang kemudian dianggap benar oleh masyarakat.
‘Mendzolimi’ fasilitas
Walaupun tidak di semua ruangan, Universitas Riau (UR) telah banyak terfasilitasi oleh Air Conditioner (AC). AC semacam bukti pemanfaatan anggaran dan seharusnya memaksimalkan stabilitas proses belajar mengajar. Namun Ini pun didzolimi oleh mahasiswa sendiri. Merokok dalam ruangan ber-AC hingga ‘pose’ merokok dengan kaki dinaikkan ke atas meja seakan dianggap biasa dan ‘gagah’.
Mahasiswa lainnya duduk di meja bahkan menyoretinya sesuka hati. Perilaku ini makin lama seperti menggelitik. Apalagi jika mengingat tempo dulu, tempo seragam putih merah hingga putih abu-abu. Saat itu, tidak mencoreti meja dan bangku serta beberapa fasilitas lainnya layaknya ‘pasal’ yang mendikte siswa di kebanyakan sekolah.
Mungkin adalah siswa bengal atau siswa yang sering dihukum jika tidak menaatinya. Namun mahasiswa yang pada hakikatnya satu tingkat lebih ‘maha’ dari siswa, justru lebih buruk dari tempo mereka dulu. Ataukah mestikah ‘dipasali’ lagi? Mestikah didikte lagi?
Perbaikan fasilitas toilet pun menjadi sia-sia jika sudah berhadapan dengan ‘perzoliman’ fasilitas. Toilet berbau tak sedap, berbau rokok, dan berserakan sampah menjadi pemandangan ‘wajib’ di beberapa toilet kampus UR.
Di keadaan lain, bukan pemandangan asing lagi dengan sampah yang terbuang sembarangan. Padahal tong sampah bertebaran di mana-mana. Kala tak ada tong sampah, pihak atas dituntut bak ‘tergugat sidang’.
‘’Memanfaatkan pekerja kebersihan,’’ kata Inur, mahasiswi dari FISIP UR, Sabtu (15/10). Menurutnya, UR sudah difasilitasi banyak petugas dan sudah tugas mereka mengurusi kebersihan termasuk sampah-sampah limbah pembungkus makanan mahasiswa.
Juga dikatakan Fajarsyah, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP. Ia bahkan menganggap membuang sampah sembarangan masih terhitung wajar. ‘’Sah-sah aja kok, masak gitu aja jadi gak beretika. Selagi masih bisa menempati situasi,’’ katanya.
Namun Hidayat, mahasiswa Administrasi Niaga ’09 tegas menganggap hal itu tidak beretika. ‘’Kan udah disediakan tong sampah, kalau masih buang sampah sembarangan saya rasa itu tidak disiplin. Seperti tidak beretika,’’ tegasnya, ditemui Rabu (02/11) lalu.

Hilangnya kesadaran
Perihal etika bukan hanya menjadi masalah kampus UR. Kampus tetangga,  Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Qasim (UIN Susqa) juga mengalami hal yang sama. Etika yang memudar seperti ‘budaya bervirus’ yang mudah menyebar menjadi biasa di berbagai tempat.
Rio, mahasiswa Ekonomi Islam ‘10 Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Susqa mengatakan bahwa kampusnya memiliki masalah etika meski dalam versi sedikit berbeda.  Diantaranya seperti; duduk di kursi dosen pada jam kuliah, masuk kelas tanpa salam, memotong pembicaraan, mengobrol saat dosen berkelakar menyelesaikan tanggung jawabnya, hingga sikap tidak menghargai pendapat orang lain ketika berdiskusi.
Rio melihat perilaku-perilaku tersebut sebagai bentuk kurangnya kesadaran tentang akhlak kesopanan seharusnya. Mereka seakan melihat dunia di sekitarnya seolah telah miliknya atau ada pada kuasanya. ‘’Mahasiswa yang pelajar belum tentu terpelajar. Sayang sekali. Padahal menyandang predikat mahasiswa yang berarti di atas siswa membuat mahasiswa dicontoh oleh masyarakat umum,’’ sesalnya, Jumat (04/11) lalu.
Sadar diri, itulah kunci perbaikan yang dianggap ampuh. ‘’Sadar dirilah. Mahasiswa yang berpendidikan tidak sepatutnya berbuat tidak beretika,’’ saran Sri Yuliati, mahasiswi Hubungan Internasional ’10.
Senada diungkapkan Rio. ‘’Kesadaran harus diperhitungkan lagi karena efeknya sangat besar bagi diri kita dan orang lain. Pihak kampus pun harus tegas lagi terhadap peraturan-peraturan, jangan hanya peraturan tulisan atau hanya sekedar komando,’’ ungkapnya.

Etika, masalah karakter
Jika dibandingkan dengan universitas ternama, seperti Universitas Padjadjaran (Unpad), etika mahasiswa UR dan UIN Susqa tentu ber-punten merah. Fajri, alumni 2011 Jurusan Ilmu Hukum Unpad mengatakan, di pekarangan kampus saja mahasiswa Unpad sudah menghentikan tindakan tidak beretika yang mungkin mereka lakukan di luar kampus.
‘’Mahasiswa rata-rata kalau di dalam kampus itu menghargai etika. Kalau di luar ya mereka bebas. Jika sudah masuk dalam pintu kampus sudah tidak boleh merokok lagi. Kampus Unpad ada spanduk besar yang bertuliskan dilarang merokok,’’ tutrnya dengan dialek Sunda yang khas, Rabu (02/11).
Namun menurut kesimpulan Hidayat, sikap tidak beretika kemungkinan adalah kebiasaan di luar kampus yang terbawa ke kampus. ‘’Secara universal hal itu telah membudaya. Budaya jelek sulit dihapus, tapi untuk meminimalisir kita bisa kerjasama,’’ ungkapnya.
Mengenai hal ini, Pembantu Rektor III UR, Drs Rahmat MT menyebutnya telah menyangkut karakter bangsa yang bermasalah. ‘’Budayanya yang seperti itu karena ada nilai-nilai yang bergeser,’’ ungkap Rahmat, Rabu (09/11). Masa lalu, lanjutnya, bila ada pemuda dan pemudi berani bertatap pandang saja sudah dianggap tidak beretika. Tidak semua pergeseran nilai buruk, namun banyak mahasiswa membuatnya menjadi tidak beretika.
Mereka yang berperilaku seperti itu, tambah Rahmat, melalui proses yang panjang sehingga menjadi kebiasaan. Inilah perbincangan para ahli yang belum terselesaikan tuntas. ‘’Kalau ditanya risih, ya pasti risih. Mahasiswa berperilaku buruk seperti itu jelas disebut tidak beretika,’’ kata Rahmat. Sri Yuliati juga menyebutnya sama, ‘’tidak beretika”. *** (Aristra/Tekad)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: