Haruskah Wisuda Ditunda?

Oleh: Khoirun Nasifah

Berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan Harian Universitas Riau (DPH UR) pada 4 Januari 2012 memutuskan bahwa pelaksanaan wisuda Pascasarjana ke-26, Profesi ke-20, Sarjana ke-89 dan Diploma ke-30 UR mengalami pengunduran hingga Oktober 2012 dari jadwal awal 25 Februari 2012.

            Wisuda. Satu kata yang sakral bagi yang berstatus mahasiswa. Wisuda merupakan seremonial tanda kelulusan yang didambakan setiap mahasiswa. Banyak perjuangan dan pengorbanan untuk akhirnya bergelar sarjana. Namun bagaimanakah jika acara seremonial yang dinantikan setiap calon sarjana itu mengalami penundaan?

            Ditemui di ruang kerja, Drs H Yoserizal MS Pembantu Dekan (PD) I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menyesalkan penundaan tersebut. Karena menurutnya, wisuda yang dilaksanakan dua kali dalam setahun saja belum begitu maksimal, apalagi nanti dijadikan hanya satu kali dalam setahun pasti tambah tidak maksimal. Ia juga menilai bahwa wisuda saat ini jauh dari kesan khidmat.

             ‘’Belajar dari pengalaman sebelumnya, wisuda yang dilaksanakan dua kali dalam satu tahun saja pelaksanannya kurang maksimal, apalagi satu tahun satu kali. Padahal masyarakat telah mempercayakan UR, banyak orang tua yang memberikan izin sang anak menuntut ilmu di universitas ini, mungkinkah kita mengecewakan mereka,” ungkapnya kepada Tekad, Selasa (06/03) lalu.

            Respon pihak dekanat

Yose mengaku tidak mau melihat ‘kegagalan’ dalam wisuda Oktober nanti. ‘’Wisuda Sarjana ke-88 kemaren merupakan wisuda terburuk yang pernah saya lihat, tidak pernah terbayangkan jika wisuda yang berjalan sangat kacau itu harus terjadi lagi Oktoner nanti,’’ ujarnya.

Penundaan wisuda, menurut Yose, harus dipertimbangkan secara matang. Universitas harus mampu memberikan alasan yang jelas akan itu semua. Jika pihak universitas tidak mempersiapkan segala sesuatunya mulai sekarang, kecil kemungkinan wisuda berjalan sukses.

Penundaan wisuda juga membuat urusan akademik mengalami penumpukan. Bagaimana tidak, menjelang ijazah diterbitkan mereka pasti akan membutuhkan Surat Keterangan Lulus (SKL) untuk memasuki dunia kerja. ‘’Kalau cuma satu yang minta tidak masalah, tapi kalau semuanya? Begitu juga nantinya dengan ijazah dan transkrip nilai  yang sudah keluar, pasti membutuhkan legalisir dan itu semua membutuhkan proses,’’ kata Yose.

Yose dan pihaknya tengah mewacanakan pelaksanaan yudisium. Namun berbagai aspek, seperti halnya apa urgensi dari acara yudisium sendiri dan aspek finansial tentunya menjadi pertimbangan utama. ‘’Yudisium memakan biaya, kita akan sosialisasikan kepada calon wisudawan/i. Kalau mereka tidak menyetujuinya maka acara yudisium ini tidak akan dilaksanakan,’’ jelasnya.

Sementara itu Prof Dr Ir Usman Pato MSc, Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) mempunyai pandangan berbeda. Menurutnya, wisuda hanyalah seremoni, ijazah bisa diusulkan penerbitannya jika mahasiswa melengkapi persyaratan setelah ujian.

‘’Jadi tidak menjadi kendala. Penerbitan ijazah juga dilakukan setiap bulan. Jika penerbitan ijazah hanya dilakukan pada saat wisuda baru itu menjadi kendala. Penundaan hanya terjadi pada pelaksanaan wisuda, selebihnya berjalan seperti biasa,” jelasnya, Jumat (09/03) lalu.

Lagipula, menurutnya mahasiswa tidak keberatan. ‘’Ini terkait ulang tahun emas UR, mengingat usia 50 adalah usia matang bagi perjalanan universitas ini. Wajar jika wisuda dilakukan bersamaan dengan perayaan tersebut.’’

 

Banyak mahasiswa kecewa

Respon beragam dari calon wisudawan/I pu muncul. Namun umumnya mengaku kecewa. Midar Vifttaria salah satunya, ketidakjelasan penundaan wisuda menggelitik rasa ingin tahu mahasiswi Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini.

  ‘’Kalo bisa tolong diumumin mengapa ditunda, apakah hanya karena diesnatalis atau ada pertimbangan lain. Bagaimana menjelaskan kepada orang tua kalau saya sendiri sebenarnya tidak tahu. Apa yang akan saya katakan sementara mereka bertanya seolah tidak percaya,’’ akunya kepada Tekad, Kamis (08/03) lalu.

Terlepas dari itu ia berharap wisuda akan berjalan dengan sukses, bukan hanya sekedar wisuda ‘main-main’. ‘’Wisuda cuma satu kali, semoga universitas memberikan yang terbaik,’’ harapnya.

Hal serupa diungkapkan Sri Rahayu, Mahasiswi Ilmu Pemerintahan (IP) ‘07 FISIP. Rentang waktu penantianselama 9 bulan membuatnya kecewa. Keinginannya menggenggam ijazah juga harus tertunda. ‘’Ijazah dibagi setelah wisuda, itu berarti harapan untuk memilikinya juga tertunda untuk waktu yang tidak sebentar,’’ tuturnya, Jumat (09/03).

            Senada dengan Midar, Ayu juga mengharapkan pelaksanaan wisuda berjalan dengan baik. ‘’Walaupun hanya sebuah perayaan, namun makna wisuda itu sangat dalam. Wajar jika mahasiswa kecewa apabila pelaksanannya kurang mengenakkan. Apalagi ini satu kali seumur hidup, tidak mungkin waktu bisa diulang,’’ tandasnya.

Ini juga yang membuat Jarsnis, mahasiswa Pendidikan Matematika mau angkat bicara. Menurutnya harus ada solusi dari pihak universitas terkait penundaan yang mengharuskan mahasiswa menunggu lama. Seperti Jarsnis yang menunggu hingga 10 bulan. ‘’Penundaan wisuda membatasi ruang gerak mahasiswa, lamanya pemberian ijazah juga mempersulit mahasiswa untuk melangkah maju,’’ akunya, Minggu (11/03) lalu.

            Jasrin juga mengungkapkan ketakutannya akan prosesi wisuda nanti. ‘’Terlalu banyak yang diwisuda bisa membuat pelaksanannya kurang hikmat,” ungkapnya. Untuk itu, lanjutnya, ke depannya wisuda mungkin lebih baik tetap dilakukan tiga kali dalam satu tahun.

Di sisi lain ada juga yang beranggapan bahwa penundaan wisuda tidaklah masalah, karena hanya seremoni belaka. ‘’Yang terpenting itu bukan wisudanya tapi ijazahnya,’’ tegas Defriska Lidiana kepada Tekad, Kamis (08/03) lalu.

Namun mahasiswi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (Faperika) ini tetap kecewa atas kebijakan penundaan yang terjadi.  Selain aspek waktu, Defriska mempertanyakan kesiapan pihak universitas. ‘’Apakah pihak universitas yakin akan mewisuda sekitar belasan ribu mahasiswanya dalam jangka satu kali wisuda?’’ tandasnya.

Tidak Perlu Kecewa

Menjawab berbagai tanggapan mahasiswa, Drs Afrinaldi mengungkapkan sebaiknya tidak ada rasa kekecewaan yang menghinggapi mahasiswa. ‘’Yang mengalami penundaan kan  perayaan wisudanya saja, sedangkan untuk ijazah tetap kita proses. Jadi tidak ada pengaruhnya,’’ jelasnya,  Jum’at (09/03) lalu.

Terkait ijazah, ketua BAAK UR ini menjelaskan bahwa proses pembuatan ijazah tetap dilakukan, tidak ada penundaan. ‘’Meskipun wisuda ditunda, namun pembuatan ijazah tetap kita laksanakan. Setiap awal bulan jika ada mahasiswa yang ingin mengurus ijazah tetap kita proses, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Jadi tidak ada penundaan ijazah, hanya perayaan wisudanya saja yang ditunda,’’ terangnya.

Terlebih lagi jika benar-benar urgen foto kopi ijazah dapat diberikan kepada mahasiswa. Bahkan ijazah asli juga dapat ‘dipinjamkan’ kepada mahasiswa yang bersangkutan dengan proses perjanjian. ‘’Fotokopi maupun ijazah asli dapat mahasiswa miliki apabila mahasiswa tersebut benar-benar membutuhkannya. Misalnya, dunia kerja yang akan ia masuki mengharuskan ijazah sebagai syarat utamanya,’’ jelas Afrinaldi.

Menanggapi persoalan wisuda Oktober lalu, Afrinaldi memakluminya. ‘’Pelaksanannya di ruangan terbuka sehingga gangguan lebih besar. Faktor cuaca juga menjadi hal yang tidak bisa disepelekan. Namun, semoga Gedung Auditorium UR akan menjadi solusinya, sehingga wisuda tahun ini bisa dilaksanakan di sana,’’ tuturnya.

Wisuda pada Oktober sendiri dapat diikuti oleh mahasiswa/i yang telah lulus yudisium sebelum Bulan Oktober. ‘’Pembuatan ijazah kan pada awal bulan, maka dari itu kami mempunyai range waktu tertentu yang digunakan untuk mempersiapkannya. Biasanya 3 minggu sebelum perayaan wisuda harus sampai ke BAAK,” jelas Afrinaldi.

Disinggung mengenai persiapan pihak universitas, Afrinaldi mengatakan akan mengadakan rapat bersama jajaran PD 1 untuk membahas Standar Operasional Pelaksanaan (SOP). ‘’Kita akan rapatkan bagaimana dan seperti apa kira-kira pelaksanaan wisuda. Apakah akan dilaksanakan selama dua, tiga atau empat hari. Bisa jadi fakultas dengan jumlah tamatan terbanyak akan didahulukan pelaksanaan wisudanya,’’ terangnya.*** (Ricko)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: