Jurnal Online, Mahasiswa Banyak Tak Tahu

Oleh: Aidil Emmil Adliandri

Menjadi seorang sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang layak merupakan dambaan setiap mahasiswa. Butuh banyak perjuangan untuk mencapai impian itu, termasuk berjuang agar  segera bergelar sarjana. Belakangan, jurnal online pendidikandiwacanakan sebagai syarat yang harus dilewati mahasiswa agarberoleh predikat sarjana. Perjuangan lantas bertambah.

Sesuai dengan keputusan dari surat edaran Direktorat Jenderal Pedidikan Tinggi (Dirjen Dikti) nomor: 152/E/T/2012 tentang publikasi karya ilmiah, menyatakan bahwa setiap calon sarjana S1 membuat jurnal online sebagai salah satu syarat kelulusan. Setelah itu,Dirjen Dikti mengeluarkan keputusan lagi yaitu setiap calon sarjana S1 tidak diwajibkan untuk memposting jurnalnya ke media internet atau jurnal online.

Kemudianberdasarkan kesepakatan dari rapat Majelis Rektor Perguruan Tinggi Indonesia dengan Dirjen Dikti keputusan tersebut menyatakan bahwa bagi mahasiswa yang mendapatkan nilai kumlot dan tidak membuat jurnal online, maka mahasiswa tersebut dikurangi IPK-nya sebesar 0,1 yang berarti mahasiswa tersebut tidak dikatakan mendapat nilai kumlot lagi.

            Reaksi beragam bermunculan di kalangan mahasiswa seluruh universitas di Indonesia termasuk Universitas Riau (UR). Banyak mahasiswa masih belum mengetahui apa sebenarnya jurnal online tersebut, kemudian protes agar jurnal online tidak diberlakukan. Namun pihak yang mendukung berlakunya jurnal online tidak kalah banyak.

Perlu dilakukan berbagai siasat dari pihak akademis UR agar keputusan pemberlakuan jurnal online bisa berjalan seperti yang diharapkan. Salah satu cara yang telah diwacanakan ialah mengadakan seminar untuk mensosialisasikan bagaimana jurnal online yang dimaksud Dirjen Dikti.

Menunggu 1 tahun?

            Hal yang mengejutkan mahasiswa dari keputusan Dirjen Dikti adalah calon sarjana S1 harus membuat jurnal online yang sebelumnya hanya diberlakukan pada calon sarjana S2 dan S3. Untuk S2, jurnal yang mereka buat dipostingkan ke web jurnal nasional dan untuk S3 dipostingkan ke web jurnal internasional.

            Sistem pembuatan jurnal online bagi mahasiswa S2 dan S3 adalah dengan memosting jurnal ke web,  lalu jurnal tersebut akan diteliti terlebih dahulu oleh dewan redaksi jurnal yang bersangkutan agar dapat dipostingkan. Untuk dapat dipostingkan ke web, calon sarjana S2 dan S3 harus menunggu setahun.

            Direktur Dewan Redaksi Nature Indonesia, Prof Dr Saryono mempertanyakan ini.  ‘’Tidak masalah jika calon sarjana S2 dan S3 membuat jurnal online, namum yang menjadi pro dan kontra  adalah apakah sistem yang diberlakukan untuk S2 dan S3 itu juga diberlakukan bagi calon sarjana S1. Apakah mereka akan menunggu setahun agar jurnal mereka dapat dipostingkan?’’ ungkapnya.

            Jika memang jurnal online untuk calon sarjana S1 sama dengan S2 dan S3tentu akan menyusahkan calon sarjana karena butuh waktu setahun agar jurnal mereka dapat dipostingkan. Akhirnya mengakibatkan tertundanya wisuda.

Prosedur pembuatan

            Setelah ditelusuri, ketakutan tersebut diatas ternyata tidak akan terjadi. Sistem yang diberlakukan untuk calon sarjana S1 ternyata dibedakan dengan calon sarjana S2 dan S3. Calon sarjana S1 hanya akan memposting jurnal mereka ke web yang sudah disediakan oleh pihak universitas masing-masing.

Ini seperti dijelaskan Kepala Pusat Komputer (Puskom) UR, Defianto DEA. Jurnal online merupakan jurnal yang dipostingkan ke sebuah web di internet dan untuk memostingkan jurnal sebagai syarat sarjana S1 PihakUR, terang Defri, akan mempersiapkan web open jurnal atau free.

‘’Jadi siapa saja bisa mengakses web ini nantinya. Kami targetkan 2 hingga 3 bulan ke depan web sudah selesai. Apabila sudah selesai, kami akan memberikan account-nya kepada prodi-prodi melalui falkultas di UR ini,’’ terang Defrianto.

            Ir Agus Sutikno MSi, Kepala Perpustakaan UR menerangkan, Jurnal yang dipostingkan berasal dari skipsi yang mahasiswa ringkas. ‘’Jadi berupa repository atau artikel yang hanya terdiri dari 2 sampai 5 page saja,’’ terangnya kepada Tekad, Kamis (23/02) lalu.

            Pembantu Rektor II (PR II), Dr Yanuar MSi mengatakan SPO atau pun prosedur untuk jurnal online ini diatur oleh masing-masing prodi di fakultas yang ada di UR. ‘’Pihak rektor memberikan hak otonom bagi masing-masing prodi karena kami tidak bisa memaksakan SPO. Setiap prodi mempunyai sistem yang berbeda,’’ katanya, Jumat (09/03) lalu.

            Secara singkat, lanjut Yanuar, sistem pembuatan jurnal online dapat digambarkan dalam tiga tahap. Pertama, senada dengan Agus, skripsi yang sudah selesai diringkas dalam bentuk repository atau artikel yang terdiri dari 2-5 halaman saja.

Kedua, Pembina bertanggung jawab dan menyetujui atas jurnal yang dibuat oleh calon sarjana. Kemudian terakhir, jurnal  yang sudah disetujui tersebut dipostingkan ke web yang telah disediakan universitas melalui prodi masing-masing.

 

Persiapan UR

            Pada pertengahan Februari lalu,bertempat di Hotel Labersa, pimpinan akademik universitas yaitu Pembantu Rektor (PR) I dan seluruh Pembantu Dekan (PD) I URtelah merapatkankeputusan perihal jurnal online dari Dirjen Dikti. Rapat tersebut memutuskan, sistem jurnal online diberlakukan mulaidari mahasiswa tamatan Agustus 2012 ini.

Pihak universitas juga menggunakan sistem pengurangan poin IPK kumlot bagi yang tidak membuat jurnal online.  Seperti disebut Yanuar. ‘’Walaupun keputusannya tidak diwajibkan, pihak UR akan tetap menyediakan media untuk jurnal online tersebut.Semoga ini dapat meningkatkan budaya dan keterampilan menulis calon sarjana,’’ sebutnya.

            Untuk memfasilitasinya, pihak Puskom, diterangkan Defrianto, berjanjimeningkatkan jaringan internet gratis atau WiFi dikawasan UR agar akses internet dapat berjalan lancar.

            Selanjutnya, Puskom, BPTIK dan Perpustakaan UR akan bekerjasama dalam pra-pemberlakuan jurnal online. ‘’Pihak pustaka mengatur format penulisan dan pengaturan klasifikasi jurnal,’’ tutur Agus.

            Defianto DEAmembenarkan. ‘’Kami membutuhkan pihak dari Perpustakaan UR untuk mengklasifikasi jenis-jenis jurnal online ini agar kami mudah untuk memberikan account kepada prodi yang sesuai dengan ruang lingkupnya,’’ ungkapnya.

 

Kualitas calon sarjana diuji

            kejujuran diuji. Jurnal online disinyalir dapat mendeteksi unsur-unsur plagiat yang ada di skripsi calon sarjana. Ini tentu dapat meningkatkan kualiatas pendidikan di Indonesia. Termasuk membantu meningkatkan kualitas sarjana di mata masyarakat. Semakin banyak jurnal online hasil karya mahasiswanya, maka semakin meningkat pula kualitas unversitas tersebut.

            Seperti yang dikatakan Yanuar. ‘’Kami merencanakan untuk mempostingkan semua jurnal-jurnal di universitas untuk meningkatkan pencitraan unversitas di kalangan masyarakat,’’katanya.

            Yanuar kemudian menegaskan, apabila terdapat unsur-unsur plagiatisme di skripsi maupun jurnal online calon sarjana, maka calon sarjana tersebutakan ditindak sesuai aturan yang berlaku.‘’Semua calon sarjana diharapkan berpartisipasi untuk membuat jurnal online walaupun tidak diwajibkan,’’ lanjutnya.

Mewakili mahasiswa, Ary Nugraha, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (IP) ’07 sepakat dengan Yanuar. Pembuatan jurnal menurutnya seharusnya meminimkan plagiarisme. ‘’Jangan sampai kebijakan pembuatan jurnal malah menambah plagiat-plagiat baru karena selama ini faktanya minat mahasiswa sangat minim dalam mengerjakan yang bersifat akademik seperti penelitian ilmiah,’’ tukasnya.*** (AA)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: