Ontel, Kerinduan Masa Lalu

Oleh : Sucie Nella Ardilla

Menggunakan sepeda ontel bukan sekedar hobi, tapi juga merupakan realitas bentuk dari kerinduan terhadap masa lalu. Masa dimana hirukpikuk dari knalpot kendaraan bermotor masih awam di kalangan masyarakat.

 

            Sepeda ontel dulunya merupakan alat transportasi yang sering digunakan penjajah untuk berkeliling menikmati segarnya alam Indonesia. Kebiasaaan itu lantas menular pada kaum pribumi berdarah biru. Pada akhirnya, sepeda jadi alat transportasi yang bergengsi kala itu.
Namun pada masa berikutnya, dunia mulai menapaki era modernisasi. Peran sepeda semakin terdesak oleh beragam teknologi yang disandang kendaraan bermesin. Berbagai hal canggih dan simple ditujukan untuk memudahkan kinerja manusia dalam beraktivitas. Munculnya kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat tersedia secara praktis.

Pecintanya tidak meninggalkan

Kini, sepeda motor manjadi raja jalanan, seolah menguasai lebarnya jalan. Sepeda  mulai banyak ditinggalkan. Namun tidak bagi sekelompok orang yang masih mencintainya. Sekelompok orang yang mengaku pecinta ontel ini kemudian membentuk komunitas. Mereka bermaksud menoreh sejarah lewat koleksi sepeda  ontelnya yang telah menjadi barang antik.

            Salah satu alasan tetap mencintai sepeda ontel adalah karena perawatannya yang tidak sulit. Sepeda ontel tidak merepotkan penggunanya. Hanya saja, persaingan dengan sepeda bermotor membuat aksesoris kendaraan roda dua ini menjadi agak langka. Apalagi untuk mencari yang orisinil.

Namun seperti bunyi sebuah pepatah; “cinta mengalahkan segalanya”. Banyak pengguna dan pecinta sepeda ontel rela mengeluarkan kocek ratusan ribu bahkan hingga jutaan rupiah untuk memperelok sepedanya.

            ‘’Jika terjadi kerusakan ringan, ontel masih bisa diperbaiki oleh tangan awam. Namun jika kerusakannya parah, hanya bisa diperbaiki di bengkel sepeda. Bengkel sepeda telah banyak tersedia di Pekanbaru,’’ terang salah satu pengguna ontel.

Komunitas di Pekanbaru

            Fajar, Ketua Komunitas sepede ontel, merasa tergerak untuk mengembalikan rasa orisinilnya lewat komunitas yang ia bentuk, yakni rasa kepuasan batin mencapai suatu tempat tujuan dengan mengayuh sepeda. ‘’Sepeda membawa kita untuk berproses, bagaimana kita mengayuh hingga sampai ketujuan dengan cucuran keringat, beda dengan kendaraan bermotor yang memanjakan kita,” tuturnya antusias.

            Fajar dan teman-temannya awalnya adalah pencinta sepeda tua yang sering bertemu untuk sekedar berkumpul dan sharing mengenai sepeda. Atas kesesuaian cerita dan kebersamaan tersebut, Fajar dan ketujuh orang teman lainnya sepakat menggagas Comunitas Sepeda Onthel Pekanbaru (CSOP), pada 18 april 2008 lalu.

            Seiring berjalannya waktu, minat masyarakat Pekanbaru semakin bertambah. Antusias terhadap sepeda tua pun semakin terlihat. Semakin banyak warga pekanbaru yang berbondong-bondong mengikuti CSOP.

Mengoleksi baju veteran, baju petani zaman dulu, baju tentara Belanda, dan kostum ‘tua’ lainnya merupakan hobi lain dari anggota CSOP. Seolah ingin melepas basic sosial,  mereka sering menggunakan sepeda dengan mengenakan koleksi kostumnya. ‘’Dengan begitu tidak ada yang tahu kami siapa, kami saat berontel hanya sebagai pencinta ontel,” tambah Fajar.

            Sebelum menggagas CSOP, Fajar sudah acap kali melakukan aktivitas menggunakan sepeda tuanya. Jarak tempuh hingga 30 kilometer dilaluinya. Seperti pergi ke undangan acara yang masih dalam jangkauan. ‘’Sudah ngena di hati, jadi sulit dijelaskan kenapa sampai hobi sekali,” ungkapnya.

Berganti nama

            COSP sempat berganti nama menjadi “Komunitas Sepeda Tua Laskar Pekanbaru”. Berbagai agenda penting dicanangkan seiring perubahan nama ini. Laskar yang kini beranggotakan 210 orang tidak hanya sekedar bercengkrama dan bersantai di saat car free day Pekanbaru, tapi juga bergerak dalam aksi sosial.

Anggota Laskar sadar betul akan kebutuhan dunia akan pohon hijau. Maka dari itu, mereka mulai menanam pohon di beberapa lokasi yang berbeda untuk menabur gudang oksigen di Pekanbaru.

            Selain aksi penanaman, Laskar juga melakukan perawatan terhadap pohon-pohon yang sudah ada. Setiap minggu kedua di awal bulan, mereka berkeliling dan mencabuti paku-paku yang menghujam tajam ke batang pohon. ‘’Mereka juga makhluk ciptaan Tuhan, jangan diperlakukan seenaknya saja,” kata Fajar berapi-api.

Di kancah nasional

            Di kancah Nasional, komunitas pencinta sepeda tua bukanlah hal yang baru lagi. Komunitas Pencinta Sepeda Tua Indonesia (Kosti) adalah komunitas sepeda tua di Jakarta yang juga merupakan organisasi yang mewadahi komunitas-komunitas pencinta sepeda tua lingkup nasional.

Saat kongres ke dua di Jakarta, Fajar menggabungkan diri dengan membawa berita acara Laskar. Dengan itu, secara resmi Laskar kemudian tergabung dalam Kosti. Serupa dengan lainnya, anggota Laskar pun membayar 15 ribu Rupiah setiap bulannya kepada Kosti.

            Anggota Kosti wajib membayar uang kas sebesar 15 ribu Rupiah tersebut dimana separuhnya digunakan untuk kegiatan bulanan sarapan bersama. Yakni kegiatan makan-makan yang dilakukan bergiliran di masing-masing rumah anggota. Sementara setengahnya lagi, digunakan untuk keperluan organisasi, seperti menjenguk anggota yang sakit, sumbangan bencana, membuat karangan bunga, dan lain-lain.

            Kebersamaan yang dilengkapi dengan kepedulian terhadap sekitar membuat kehangatan di komunitas ini terus terjalin. Tidak ada pembedaan antara anggota, meskipun berbeda usia, jabatan, atau terpisah pulau sekalipun. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: