Euforia AFC 2012di Pekanbaru

Ada pemandangan yang berbeda pada Stadion Utama Riau beberapa minggu lalu. Pengunjung yang didominasi pakaian serba merah dan bertuliskan Indonesia memenuhi stadion yang terletak di kawasan Universitas Riau (UR) ini. Pengunjung tersebut bukan hanya ‘penikmat’ pertama stadion ini namun juga sebagai pendukung Tim Nasional (Timnas) yang sedang berlaga kala itu.

Stadion Utama Riau memang belum diresmikan secara official. Namun antusias masyarakat Riau, khususnya Pekanbaru terhadap stadion ini sangat besar. Terlebih lagi, dalam event perdana, Stadion Utama Riau dipakai untuk event Internasional seperti Babak Kualifikasi Asian Footbal Confederation (AFC) Grup E U-22. Untuk Grup E, Indonesia melawan negara tetangga seperti Australia, Timor Leste, Macau, Jepang dan Singapura.

Namun pada akhirnya, Indonesia harus mengubur dalam-dalam impiannya untuk lolos ke babak berikutnya. Sebab, Indonesia kehilangan banyak skor akhir ketika kalah melawan Jepang. Namun kekalahan Indonesia ini tidak membuat surut supporter dan pemain.

Seperti yang dikatakan keeper Indonesia, M Ridwan, ‘’Walau kita tidak ada peluang untuk lolos, namun kita akan tetap bermain maksimal. Kita tidak mau kalah dengan negara tetangga (Singapura, red),’’ kata Ridwan kepada Tekad, Sabtu (14/07) lalu.

Pernyataan keeper muda yang berasal dari Klub Bontang FC itu bukanlah isapan jempol belaka. Terbukti meski Indonesia tidak lolos ke babak selanjutnya, Indonesia berhasil mengalahkan Singapura, hal itu membuat Singapura gagal untuk lanjut ke babak berikutnya. Hasil akhir dari babak kualifikasi Grup E ini akhirnya diwakili oleh Jepang dan Australia.

Persiapan kurang, penonton rusuh

Di samping suksesnya event olahraga internasional yang dilakukan di Riau ini, ternyata masih banyak hal yang harus diperbaiki, baik dari sarana maupun prasarana. Hal ini terlihat pada pertandingan pertama Indonesia melawan Australia. Banyak kesalahan-kesalahan teknis yang cukup fatal. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana kurang matangnya persiapan dalam event berskala internasional ini.

Misalnya, masih buruknya sound system pada pertandingan pertama sehingga membuat penonton kesulitan untuk mendengarkan pengumumuman pertandingan. Tidak hanya itu, pada saat istirahat terjadi insiden. Salah satu tiang penarik jaring gawang bagian belakang roboh setelah terkena tendangan bola dari salah satu pemain cadangan Australia. Kejadian tersebut membuat pemain Australia berkutat cukup lama untuk memperbaiki tiang tersebut.

Tidak hanya itu, insiden selanjutnya terjadi pada pertandingan yang sama. Di menit-menit terakhir babak kedua, salah satu pemain Australia mendorong pemain Indonesia sehingga terjadi ‘adu mulut’ antar pemain.

Hal ini memicu kemarahan penonton. Penonton bertindak anarkis dengan melemparkan botol plastik minuman ke lapangan yang ditujukan pada pemain Australia. Tidak hanya botol, sebuah petasan pun sempat dilemparkan ke bangku pemain Australia setelah peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan ditiupkan. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kerusuhan ini, karena pihak panitia segera menyelamatkan para pemain Australia dengan menggiring mereka hingga ke ruang ganti.

Pembantu Rektor II Dr Yanuar Msi, menanggapi hal ini. Ia mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa berkomentar banyak. ‘’Itu seharusnya panitia yang mengontrol keamanan di sana. Kita hanya bisa mendukung, dan kalau bisa penontonnya tidak anarkis, karena jika sampai terjadi kerusuhan, kita juga yang malu,’’ ungkapnya, Sabtu (14/07) lalu.

Ajang mencari rejeki

Banyak hal yang bisa ditelisik dari event international ini. Misalnya pada setiap pertandingan yang dilakukan di Stadion Utama Riau ini mendadak dipenuhi oleh para pedagang atribut bola, baik dari topi, baju hingga sticker yang bertemakan Indonesia.

Diakui oleh Zainal, salah satu pedagang atribut bola bahwa event ini membawa rejeki tersendiri baginya. ‘’Kalau omset per hari tidak bisa ditentukan, tapi yang jelas setiap ada pertandingan Indonesia pasti lebih laku dua kali lipat ketimbang hari-hari biasa,’’ tuturnya, Kamis (12/07) lalu.

Selain kekurangan serta insiden-insiden dalam lapangan, banyak pihak yang mengambil keuntungan dari segala ‘celah’ yang ada. Misalnya koordinasi tiket yang buruk antara pihak free sale dengan panitia ticketing yang berada di lapangan. Hal ini segera dimanfaatkan oleh calo yang notabene-nya adalah mahasiswa UR. Budi Suryadi, Mahasiswa Hubungan Internasional ’08 UR ini mengaku menjadi calo karena melihat pengelolaan tiket yang buruk dan ticketing yang kurang matang.

Budi sendiri bukanlah calo tetap, ia hanya mengambil peluang ketika pertandingan-pertandingan besar seperti Indonesia vs Australia, Indonesia vs Jepang, dan Indonesia vs Singapura. ‘’Dengan modal 425 ribu, aku udah mendapat untung bersih sekitar 225 ribu per satu pertandingan, dan itu habis dalam waktu setengah jam,” tuturnya.

Namun demikian, bukan berarti Budi tidak mengalami kesulitan dalam menjual tiket-tiketnya yang harganya dinaikkan kurang dari ¾ harga normal. ‘’Kesulitannya adalah koordinasi dengan calon pembeli, karena lewat telpon dan BBM, jadi sedikit ribet,’’ jelasnya. Target pasar dari Budi adalah anak-anak sekolah seperti SMP dan SMA dan juga mahasiswa, baik mahasiswa UR maupun mahasiswa selain UR.

Namun tindakan Budi dan calo-calo lainnya tidak bisa disalahkan. Karena ada beberapa pihak yang beranggapan bahwa dengan adanya calo dapat membantu mereka dalam mendapatkan tiket. ‘’Kalau beli langsung ke stadion itu ribet, harus antri panjang pula, belum lagi parkir yang mahal, dan belum tentu tiketnya dapat,’’ keluh Agung Nasution, mahasiswa Tekhnik Sipil ‘10 UIR.

Ia juga mengatakan bahwa harga jasa parkir di stadion tersebut tidak sebanding dengan kualitas penjagaannya. ‘’Ditulis di tiket itu 5.000 rupiah. Tapi tetap aja aku bayarnya 7.000. Bahkan ada yang sampe 10.000. Tetapi, Sepeda motornya gak diparkir dengan teratur,’’ keluhnya.

Ternyata pada event perdananya, Stadion Utama Riau masih perlu banyak berbenah. Seperti fasilitas parkir, ticketing, sarana dan prasarana lainnya agar pada event selanjutnya hal-hal yang seperti itu tidak terjadi lagi. Ketika diminta keterangan perihal kekurangan-kekurangan yang terjadi, pihak UR mengatakan bahwa kampus ini tidak ada kaitannya langsung dengan acara AFC tersebut.

UR hanya tempat berdirinya Stadion Utama Riau, meskipun begitu tetap menjadi kebanggan tersendiri bagi pihak UR. ‘’Karena Stadion Utama Riau itu berada di komplek UR. Kita hanya mendukung event berskala internasional ini. Karena koordinasi dalam acara ini adalah antara pihak AFC dengan Pemerintah Daerah Provinsi Riau. Jadi untuk acara ini, UR tidak bisa dilibatkan secara langsung,’’ kata Rioni Imron SSos M Ikom, selaku Kepala Humas Rektorat UR. ‘’Semoga ke depannya pihak UR bisa lebih dirangkul dalam pelaksanaan event-event yang ada sehingga kita sama-sama mendapatkan manfaatnya,’’ ungkapnya.***

Yudha/Sucie/Dini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: