Kabar Kukerta: Raja di Pantai Raja

Saat pertama kali melihat papan pengumuman pembagian lokasi Kukerta, gembira rasanya mendapatkan desa dengan nama Pantai Raja dan kecamatannya Perhentian Raja. Wow, lokasinya menarik sepertinya. Itu yang ada di pikiran saya. Nama desa dan kecamatannya ada kata ‘raja’, berarti paling tidak calon wilayah pelaksanaan kuliah kerja nyata saya ada istananya. Atau, kalau tidak istana mungkin saja ada pantai di sana. Bukan bermaksud untuk melaksanakan Kukerta dengan ‘main-main’ akan tetapi jika di lokasi terdapat tempat yang seperti saya bayangkan diharapkan akan menambah motivasi untuk membuat program-program yang tidak biasa ketika Kukerta.

Tetapi, sepertinya anggapan itu harus saya buang jauh-jauh. Tak perlu kecewa karena anggapan yang lebih pantas disebut harapan itu tak terpenuhi di lokasi sesungguhnya. Ya, di desa yang terletak ±30 km dari Pekanbaru ini tidak terdapat pantai apalagi istana kerajaan. Karena ternyata, nama desa dan kecamatan ini diambil dari sebuah cerita turun-temurun bahwa dahulu kala Raja Siak saat melakukan perjalanan pernah berhenti di daerah ini, dari cerita itulah lalu kecamatan ini dinamakan Perhentian Raja.

Sedangkan nama Desa Pantai Raja diambil dari cerita tersebut bahwa Raja Siak itu berwudhu di salah satu anak sungai di desa ini. Dimana anak sungai itu adalah pertemuan antara dua anak sungai lainnya, yang menurut cerita pertemuan anak sungai itu airnya seperti di pantai yang pergerakannya seperti ombak yang menggulung-gulung. Seperti itulah setidaknya sejarah nama dari lokasi Kukerta saya ini.

Namun tidak sekedar nama yang menarik yang saya peroleh dari desa ini, orang-orangnya juga menarik, sangat mengesankan. Bagaimana tidak, penyambutan masyarakat akan kedatangan kami begitu kami rasakan. Pepatah “tamu adalah raja” sangat kami rasakan dalam penyambutan di setiap minggunya. Sebaliknya, tuan rumah yang harus kita hormati pun tidak luput kami aplikasikan di desa ini. Namun, akankah Kukerta hanya sebatas penyambutan dan penghormatan? Tentu tidaklah demikian. Format Kukerta saat ini adalah pemberdayaan masyarakat. Bagaimana masyarakat diberdayakan dan disadarkan untuk terus berinovasi. Begitulah program Kukerta yang kami laksanakan.

Tidak wah, tapi diharapkan masyarakat desa ini menyadari betapa pentingnya hal yang kami sampaikan. Misalnya tentang kebersihan, kesehatan, kegiatan keagamaan dan sosial. Tiga bulan lamanya kami ‘abdikan diri’ untuk desa ini. Walaupun Kukerta Non Reguler yang hanya memiliki ‘jam kerja’ hanya Sabtu dan Minggu namun tak jarang di antara kami yang bolak-balik Pekanbaru-Pantai Raja di selain ‘jam kerja’ tersebut.

Lalu Mamak dan Bapak, yang begitu baik ‘melayani’ kami untuk tinggal di rumahnya, yang saya rasakan tidak ada cacat sedikit pun dari sikap mereka kepada kami, bahkan saya menyebut hati Mamak seperti malaikat. Baiknya luar biasa. Kutemukan para ‘raja’ di sana. Masyarakatnya, dan teman-teman seperjuangan saya. Semua itu tidak akan pernah bisa saya lupakan. Dari mereka, saya banyak belajar tentang makna ‘raja’ dan ‘istana’ yang sesungguhnya. Saya rasakan esensi dari apiknya ‘istana’, sambutan dari dan untuk ‘raja’, dan indahnya ‘pantai’ yang sesungguhnya.***

Aristra Risqunal Ula
Anggota Kelompok Kukerta Non Reguler Gel. II Desa Pantai Raja
Kec. Perhentian Raja
Kab. Kampar
Riau
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: